GERAKAN ANTI PERCERAIAN

    divorce-2Sebuah jaket kelabu tergantung lemas pada meja Ratna yang kosong, sebuah peringatan tentang seorang anak murung yang baru saja keluar dari ruang kelas empat bersama teman-teman sekelasnya. Sebentar lagi orang tua Ratna, yang baru saja berpisah, akan tiba menghadari pertemuan untuk membahas prestasi belajarnya yang menurun dan sikapnya yang suka mengacau di kelas. Ayah dan bunda Ratna masing-masing tidak tahu bahwa aku memanggil mereka berdua.
    Ratna, seorang anak tunggal, tadinya adalah murid yang periang, mau bekerja sama, dan berprestasi baik. Bagaimana aku bisa meyakinkan orang tuanya bahwa nilainya yang menurun belakangan ini adalah cerminan reaksi si anak yang patah hati akibat perpisahan orangtua yang disayanginya dan sebentar lagi akan bercerai ?
    Bunda Ratna masuk, lalu duduk di kursi yang kutempatkan di dekat mejaku. Tak lama kemudian ayah Ratna tiba. Bagus ! Setidaknya mereka cukup merisaukan anak mereka sehingga mau cepat datang. Terlihat perasaan kaget dan kesal di antara mereka, dan kemudian mereka jelas-jelas saling mengabaikan.
    Selagi aku memberikan keterangan rinci tentang sikap dan prestasi Ratna, aku berdoa agar bisa mengucapkan kata-kata yang tepat untuk mempersatukan keduanya, untuk membantu mereka melihat akibat perbuatan mereka terhadap Ratna. Tapi, entah kenapa, kata-kata itu tak muncul. Mungkin lebih baik kalau mereka melihat karya Ratna yang ceroboh dan kotor.
    Aku menemukan selembar kertas kusut dan terkotori air mata dan ingus disumpalkan ke belakang mejanya, sebuah tugas Bahasa Indonesia. Tulisan memenuhi kedua halamannya – bukan uraian tugasnya, melainkan sebuah kalimat yang di coretkan berulang-ulang.
    Aku meratakan kertas itu tanpa berbicara, lalu memberikannya kepada bunda Ratna. Ia membacanya, lalu menyerahkannya kepada suaminya tanpa berkata-kata. Sang suami mengerutkan dahi. Kemudian, wajahnya melembut. Ia mempelajari goresan kata-kata itu selama seabad rasanya.
    Akhirnya, ia melipat kertas itu dengan hati-hati, mengantunginya, dan meraih tanggan istrinya yang terulur. Bunda Ratna mengusap air matanya dan tersenyum pada suaminya. Air mataku pun berlinang, tapi keduanya tak memperhatikan. Sang suami membantu istrinya memakai jaket, lalu mereka pergi bersama-sama.
    Dengan cara-Nya sendiri, Tuhan telahmemberiku kata-kata untuk mempersatukan keluarga itu. Ia membimbing saya kepada selembar kertas kuning yang dipenuhi dengan luapan penuh derita dari hati seorang anak yang penuh kesusahan.
    Kata-kata itu, “Bunda Sayang … Ongki Sayang … aku sayang kalian … aku sayang kalian … aku sayang kalian.”

    Untuk putri ku Jacqueline, suatu saat kita akan paham nak. Yang kita tau, kita sangat mencintai Bunda, dan kita bahagia bila dia bahagia. Dan saat ini dia pasti bahagia.

    Mohon dukungan dari teman-teman untuk mempromosikan grup GERAKAN ANTI PERCERAIAN kita ini dengan mengundang teman-teman yang ada untuk daftar di group GERAKAN ANTI PERCERAIAN yang ada di Facebook.
    Terima kasih untuk dukungannya.

    Tetap semangat teruslah berjuang dengan segala keterbatasanmu. Sukses selalu

    Leave a Reply