PERINGATAN TRAGEDI BOM BALI
Jika Indonesia dan dunia harus berduka, memang rasanya tidak akan pernah kering air mata. Bahkan trauma masih jelas menganga. Anak yang ditinggal mati orang tua, orang tua yang kehilangn buah hati, seorang saudara harus terenggut dari saudara yang lain, sahabat yang harus terpisahkan, bahkan pasangan kekasih dan suami istri yang kini jadi seorang diri. Anggota badan yang tidak lagi utuh, kerugian materi tidak sebanding dengan sakitnya keyakinan dan jiwa. Semua harus terjadi dengan sebuah ledakan dahsyat yang dalam sekejap merenggut segalanya.
Pada tanggal ini tepat peringatan ke enam tahun tragedi bom Bali, yang meledakkan sebuah kelab di Jalan Legian, Bali. Menyebabkan ratusan jiwa melayang dan mengalami luka serius bahkan kini mesti menyandang cacat. Peringatan yang dipusatkan di Zero Point ( monumen bom Bali ), mulai dipadati wisatawan sejak pukul tujuh malam. Acara ini pula dihadiri oleh pejabat pemerintahan dan tamu kehormatan, seperti; keluarga para korban, Ambassador negara Australia untuk Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri dan tentu saja Bupati Kabupaten Badung.
Waktu mendekati pukul sepuluh malam, upacara peringatan tragedi bom Bali dibuka. Acara intinya perenungasn dan doa massal, dinyalakannya ratusan lillin dan peletakkan rangkaian bunga. Kemudian apa makna dari ini semua? Apakah kita akan selamanya berkabung? Barangkali iya, tapi seiring waktu berjalan harus ada sesuatu yang lebih dari itu, yang dapat kita petik untuk bekal di langkah mendatangi..
Peringatan tragedi bom Bali, celebration of life and forgiving, ada yang seyogyanya perlahan dalam hati kita rayakan, ketimbang terus menyesali dan menangisi yang telah terjadi. Yakni satu, bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk hidup sampai saat ini. Sangatlah pantas kita bersyukur masih dapat menghirup udara kebebasan. Kemudian apa hanya itu? Apa yang dapat kita lakukan dengan kehidupan ini, jika kadang kehidupan terlalu pahit dan menyakitkan untuk dijalani, untuk dilanjutkan? Terutama bagi mereka yang menjadi korban.
Barangkali masih sumir untuk kitya untuk mampu memaafkan pelaku tragedi bom Balii tersebut. Tetapi mungkin kita dapat mulai belajar banyak memaafkan apek-aspek lain terlebih dahulu. Pertama memaafkan diri sendiri dahulu, yang seringkali alpa, lupa, sangat tidak peka pada sesama. Kita yang menyepelekan arti penting; betapa pebedaan itu memang ada, tapi bukan untuk dipertajam melainkan untuk dilembutkan dengan tenggang rasa dan saling menghormati. Kita yang kadangkala terlalu bangga dan bermegah, terlalu hidup dalam gelimang bahagia dan barang-barang mewah, tapi sama sekali tidak ingat bahwa masih banyak yang berada di bawah. Butuh perhatian dan kepedulian kita. Dan setelah kita bisa memaafkan kekeliruan itu, yang paling utama adalah insaf dan mulai berjalan dengan pespektif baru memandang lingkungan, alam dan sesama manusia.
Kemudian, rasa-raanya mulai juga memaafkan pemerintah yang kadang sangat lamban menangani masalah rakyat. Salah satunya yang relevan adalah terus tertundanya eksekusi para pelaku Bom Bali. Daripada melaknat yang ada diatas dengan berbagai protes yang belum tentu didengar, ada baiknya kita dari elemen paling dasar membangun sendiri jati diri, dari diri sendiri dulu, menjadi anggota masyarakat yang taat hukum dan kewajiban.
Sepuluh ribu obor yang diarak dari Pantai Kuta, ada baiknya menjadi sebuah perlambang bahwa harapan masih dan terus akan ada. Untuk hari esok yang lebih baik, untuk alam, manusia, kemanusiaan dan perdamaian, di negeri kita tercinta ini. Bahkan sampai seluruh penjuru Bumi.
Posted on October 13th, 2008 by admin
Filed under: Berita


Leave a Reply